Pages - Menu

July 10, 2013

Hujan: Momen

Hujan.
Aku menemukan seseorang.
Dengan payungnya, bergemerlapan di bawah ribuan titik air. Melintasi jalan dengan eloknya.
Tak sekalipun menoleh ke belakang. Kerap kali kami berpapasan.
Namun, aku tak mengenalnya. 
Kami bertemu di setiap hari yang ada. Dia begitu aneh.
Aku melawan waktu, menghadapi minggu, menembus ragu.

Sekali waktu... dalam kurun lima tahun terakhir.
Ia menyapaku. Untuk pertama kalinya. 

"Klara, ya?"
"Hm? Kau yang sering berjalan di bawah hujan dengan payung itu, kan?"
Ia seseorang yang berkilau matanya, parasnya menggugah perasaan.Ia seseorang yang tak pernah ada di dunia.
"Aku tahu kau pasti ingat. Kau mengingat setiap momen yang ada. Jangan pernah sia-siakan mereka sebelum mereka menjadi kenangan."

Sejak saat itu, orang berpayung gemerlap itu akan hilang dan muncul dalam kepala.
Semburat di wajah dan kilau di matanya, selalu mengingatkanku untuk bermain dengan setiap detik yang kutemukan.
Aku takkan lupa. 
Pernah aku terduduk sendirian.
Lalu sebuah payung diberikan. Dia ada di sana, tersenyum.

"Aku adalah setiap momen yang kau ingat dan lupa, jadikanlah setiap bagian dari mereka menjadi bagian berharga dari hidupmu..."

Aku tahu ia akan selalu ada, dengan payungnya, mengedip dan berlalu, seperti momen yang hadir dalam hidupku--kelak akan menghilang menjadi kenangan. 
Baik atau buruknya, itu pilihan. 
Lalu kau yang menentukan bagian mana yang patut kau simpan.. dan kau lupakan. []


---Memories #1 MOPD 2013: X-8, 10 Idiots, Coordinators, #SMANDAK49, all contirbuted people, all names that I love. |

May 31, 2013

Hujan: Cerita dan Kisah

Hai Hujan.
Aku bertemu dia lagi hari ini. 
Sama sejuknya, sama menenangkannya.
Sama basahnya. 
Sama derasnya.
Sama hebatnya. 
Dia tak pernah berubah. 


Hujan...
Aku bertemu seseorang. Aku bertemu dia.
Dalam angin, dalam napas, dalam langit.
Jauh di dalam, aku tahu. Dia tak tahu. 
Aku takkan pernah bisa menjangkaunya. 
Banyak yang muncul di pikiranku hari ini!
Detik ini, aku memikirkan pohon musim gugur. Daun cokelat. Langit merah jambu. Siluetnya. Lalu hujan lagi. 

Hujan tahu aku telah mengalami apa saja dalam hidupku.
Rahasia dunia ini membawaku ke hari baru. 
Rasanya, aku udah berbuat salah. Aneh ya.
Nggak tahu aku melakukan apa... rasanya.
Mungkin ya... mungkin tidak juga. Kemungkinan ada selalu. 
Aku berbuat salah, dengan siapapun itu...
Menyesal. Aku menyesal.
Semoga ucapan ini terdengar untuk mereka.
:-)

Hidup terlalu mengejutkan....
Hujan.
Aku akan selalu menulis, dan mungkin akan menjadi lembaran kisah yang bahkan tak kutahu.
Entahlah. Aku cuma akn menjadi salah satu bukti ciptaan-Nya. 
Masih menanti cerita. Masih menunggu kisah.
Untuk dijalani.













-H

Aku. Kita. SEMUA.

-----------------

Aku belum tahu rahasia dunia.
Dunia ibarat sesuatu yang hilang-muncul.
Nggak ada seorangpun yang tahu tentang dia.
Kecuali Yang Menciptakan.
Itu klise. Semua manusia tahu bahwa rahasia dunia terlalu rahasia.
Bagaimana dengan pertemuan yang berakhir perpisahan?

Itu juga klise!
Semua manusia juga tahu.
Semua tahu. Tapi tidak mau tahu.
Semua tahu. Tapi pura-pura tidak tahu.
Semua tahu.
Perpisahan ada untuk mengingatkan bahwa berharga sekali yang namanya masa-masa di belakang itu. Momen-momen berharga yang pernah ada.
Jujur, aku sudah mengalami beberapa perpisahan. Cukup membuatku tersadar akan hal-hal semacam ini.

You never know what you had until it becomes a memory.
--------- quote


"Semua.
Yang sudah membentuk senyumku. 
Yang sudah mengukir momen-momen di hariku.
Yang sudah membuatku merasa dibutuhkan.
Teman, guru, sahabat.
Kalian semua adalah bagian dari hidupku yang paling...
berharga. 
Kejar mimpi. Taklukkan rintangan.
Jangan pernah terlihat lemah. Jangan pernah takut gagal.
Aku. Kita. Semua.
SEMANGAT UNTUK SEMUANYA!!
Aku. Kita. 
Cinta. Keluarga.
Terima kasih karena sudah menjadi sesuatu yang muncul dalam hidup.
Memories always live.
Much love, te amo..."

- YOUR FRIEND AS ALWAYS,
H

May 29, 2013

[INSPIRED] Love & Support for You!

First time of mine. 
Terinspirasi oleh seseorang yang sampai sekarang, masih berjuang, memperjuangkan segala yang ia punya. Meski ia tak sesempurna kita, dia tetap tersenyum. 




Halo, Hujan.
Aku akhirnya mutusin untuk buat postingan blog, karena tiba-tiba ada yang mampir di benakku saat ini. Kawan lama. Kawan yang secara tak langsung telah memotivasiku. Dia selalu ada, dan kali ini dia mampir lagi.
Aku masih ingat dia, bagaimana dia kebingungan.
Bagaimana dia dengan malu-malu berusaha mengabaikan kami semua.
Bagaimana pengasuh di tempat itu berusaha membujuknya agar mau menyapa kami.
Tiba-tiba, dia muncul lagi, ke dalam pikiranku.
Setelah mungkin satu tahun lebih sejak aku melihatnya, bayang-bayangnya berkunjung lagi ke dalam kepalaku.


Ayo kita bersapa!! -)
Aku masih ingat bagaimana kami masuk ke dalam ruang 'bermain' tersebut, masih dihantui pasien-pasien lain yang sempat kami tengok. Suasananya agak mendung waktu itu, usai Dzuhur kami mulai memasuki lokasi tersebut.
Sebuah tempat Tuna Ganda.
Dan, awal mulanya kami bertemu dengan sosok itu.

Dia duduk di atas matras, saat kami menghampiri. Wajahnya nyaris tak terbaca.
Tapi dia tampan.
Nggak bohong!
Mukanya berketurunan Cina atau Tionghoa mungkin. Postur tubuhnya sehat, besar dan tinggi, kulitnya putih dan matanya sipit ala orang Cina. Secara keseluruhan, dia terlihat normal. Kecuali saat kamu melihatnya, gerakannya tak normal.
Mulutnya terus-terusan mengeluarkan air liur, dari sudut bibirnya. Ia hanya menatap kami sambil lalu, dan ekspresinya tidak menunjukkan kesan bahwa ia sama seperti kami.

"Dia tertabrak mobil... koma selama 3 bulan dan ketika bangun sudah seperti ini...."
Aku masih ingat penjelasan pengasuh wanita itu. Kata-kata itu, sejujurnya belum bisa hilang dari kepalaku setiap kali aku teringat cowok remaja tampan itu.
Sejarahnya tak tahu persis, tapi yang jelas ia seorang anak SMA, dan dulu dia anak yang normal. Sama seperti aku, dan semuanya. Dia aktif, dan aku bisa bayangin gimana cowok ini dulu. Dia pasti bahagia dulu.
Tapi sekarang?
Bagaimana dengan orang tuanya?
"Orang tua dan keluarganya dateng kadang-kadang..."--kalau nggak salah, katanya juga--"dateng pas Natal dan Tahun Baru."
Natal kan lama. Tahun Baruan juga cuma sekali dalam setahun.
Sosok itu yang paling mampu buat kita semua terharu, bahkan beberapa air matanya sudah jatuh. Aku sendiri mati-matian nahan air mata.
"Seharusnya kita nggak boleh nangis. Kita kan ke sini mau kasih semangat dan bahagiain, bukannya malah kelihatan nangis," kata teman di sebelahku. Dan, dia benar.

Makanya, aku berhasil nggak nangis. Tapi, tetap saja, dia selalu tersenyum.
Mungkin, bahkan di dalam dia masih berharap ingin menjadi normal juga.
Melihat kami semua, mungkin dia juga iri.
Tapi, jangan disesali.
Buktinya, dia tersenyum hangat waktu itu, menerima kami dengan bersahabat.


Hujan,
Dia tegar. Dia sabar.
Doaku selalu buat dia.....
Doa kami semua!
Dan untuk semua orang lain.... kita tak pernah berbeda. Semuanya sama.
Semoga aku bisa menjadi dia.
Bahkan, setelah semua yang udah menimpanya, dia masih bisa tersenyum.
Dan dalam senyum itu... aku nggak melihat kepalsuan.
Hanya harapan dan kejujuran.
Dan sosoknya takkan pernah kulupakan, sampai kapanpun.

"Tetap tersenyum, Kak!
Tuhan ada di sana, selalu, di sampingmu. 
Bukan karena sebesar apa musibah yang ditimpakan padamu.
Tapi bagaimana kau masih bisa tersenyum, tak peduli sebesar apapun musibah yang datang.
LOVE AND SUPPORT!!!"





-H

May 22, 2013

Shatter

Have you ever trust someone so much?
They give you peacefulness, which is voluntarily given.
They share thoughts with you, as if you're something
Then, as the times goes, eventually you put your arms on them.
Because you know.
That they won't be that wicked to drown you down. 

But what if you're wrong all this time?
That they're not that fine.
They're not that right people. 
So you're falling alone, now. 
After stable ground you've been holding. 
You finally
turn to a shatter.



It takes ten times longer to put yourself back together as it does to fall apart.

------- Suzanne Collins